Friday, May 1, 2015

Review: Baby Steps, Anime Sederhana tentang Mimpi dan Realitas



Sumber: MyAnimeList

-> Pertama, mungkin banyak yang nggak tahu soal anime satu ini. Baby steps? Apaan tuh? Anime bayi belajar jalan?
No. Absolutely not. Ini adalah anime bertema sports dengan tenis sebagai olahraganya. Setelah Kurobas dengan basketnya dan Haikyuu dengan volinya, anime ini menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Karena seperti yang kita tahu, tenis termasuk olahraga yang cukup jarang diangkat menjadi anime (except for that legendary anime, Prince of Tennis, of course). Sedangkan sepak bola? Basket? Baseball? Nggak perlu dihitung lagi berapa banyak jumlahnya. 

->Rating nggak begitu tinggi, populer nggak, karakter cakep juga nggak. Terus, apa dong menariknya?
Realistic approach. Itulah unsur yang paling menonjol dalam Baby Steps. Mengingat sebagian besar anime bertema olahraga memasukkan ‘keajaiban’ dan ‘kemustahilan’ yang sebenarnya tidak mungkin terjadi, anime ini memutarbalikkan konsep anime bertema olahraga selama ini. Tidak ada jenius tanpa usaha, tidak ada jurus-jurus aneh, tidak ada bakat sangat hebat sampai-sampai mengalahkan pemain profesional dunia nyata sekalipun.

->Jadi ceritanya?
Anime ini hanya berkisah tentang seorang anak SMA yang bercita-cita menjadi pemain tenis profesional dari nol. Benar-benar dari nol. Tidak ada masa lalu, tidak ada musuh bebuyutan, tidak pula ada teman masa kecil dengan mimpi sama yang bertemu kembali. Big no.

Sederhana bukan? Dari sinilah ke-simple-an itu mengajak emosi penonton ikut terbawa dengan perkembangan karakter para tokohnya. Sang tokoh utama yang berusaha keras mengejar segala ketertinggalan demi meraih mimpinya menjadi seorang pro—ingat, anak SMA harusnya lagi pusing-pusingnya mikirin gimana caranya masuk kuliah, bukan ‘main’ tenis. Yang aneh itu adalah anak SMA yang cuma mau jadi jago dan juara satu di seantero negeri tanpa mikir untuk jadi pro—menyentuh banget. It really inspired me.

Jadi, inilah kesimpulan saya jika harus merangkumnya dalam satu kalimat.

Baby Steps: Anime yang bikin galau soal mimpi dan masa depan.

Di saat yang lain nungguin anime season 2 seperti Kurobas atau Nisekoi, saya di sini sendiri nungguin Baby Steps season 2 yang kayaknya peminatnya nggak banyak-banyak amat. Yakin deh, cuma segelintir orang yang menonton anime ini, bahkan review dalam bahasa Indonesia-nya pun sulit dicari di google. Tapi itu justru menambah semangat saya menulis review—yang sebenernya kepanjangan meski bilangnya review—anime ini. Semakin pengen rasanya bikin pengumuman, ‘Ini anime bagus, hoi, jangan underestimate dulu lah.’ Tapi memang sangat disayangkan sih, di luar segi ceritanya yang sangat bagus, kualitas art atau animasinya agak mengecawakan. Mungkin dikarenakan budget yang terbatas(?). It can’t be helped, then. Shikata nai ne.

OK, let’s start to the synopsis. I’ll make it short because you can read it everywhere.

Maruo Eiichiro adalah seorang anak kelas satu SMA yang kepribadiannya cukup didefinisikan dengan satu kata; majime—diligent, serious, honest. Ia termasuk anak teladan dengan nilai-nilai straight-A (sehingga ia dipanggil Ei-chan oleh teman-temannya). Ia bisa mendapatkan nilai bagus dan berada dalam top ranking di angkatannya karena usahanya, bukan semata-mata pintar atau cerdas. Ia adalah tipe yang belajar step by step, berulang-ulang, sampai ia mengerti benar materi pelajaran apapun (Teknik ini yang kemudian diterapkannya juga pada tenis. Now you can see the relation of this anime to the title, right?). Keunikannya adalah satu, ia selalu menulis note atau catatan dengan sangat rapi, teratur, dan sistematis. Semua orang mengakui bahwa catatannyalah yang paling bagus di antara yang lain. A perfectionist, yes.

Note itu membawanya bertemu dengan Takasaki Natsu, cewek yang katanya paling kawaii di kelas satu. Nat-chan, panggilannya, berkunjung ke kelas Ei-chan untuk meminjam buku catatan sejarah dunia kepada temannya, namun kemudian temannya itu merekomendasikan note milik Ei-chan. Dari sinilah pertemuan keduanya bermula.

Sepulang sekolah, Ei-chan menceritakan keinginannya untuk mengambil kegiatan olahraga, bukan masuk ke dalam ekskul sekolah yang mewajibkan latihan setiap hari, tetapi klub olahraga di luar sekolah yang memperbolehkan latihan seminggu sekali. Kenapa? Karena jadwal Ei-chan penuh dengan kegiatan les dan organisasi, sehingga hanya hari Rabu yang kosong dari kegiatan sepulang sekolah. Setelah melihat flyer STC (Southern Tennis Club), ia pun mencoba datang dan langsung KO di latihan percobaan pertamanya. Sounds pathetic, huh?

Kegagalan di awal tidak langsung membuat Ei-chan menyerah, ia justru datang latihan kembali seminggu kemudian. Dari sinilah perjalanan panjang Ei-chan dimulai. Ia bertemu dengan orang-orang hebat di STC; di antaranya Takuma Egawa, seorang senior kelas 2 di sekolahnya, termasuk juga Nat-chan. Keduanya sama-sama bermaksud menjadi pemain pro. Kira-kira empat bulan setelahnya Ei-chan menjalani pertandingan pertamanya dalam perlombaan tingkat prefektur (semacam kabupaten). Gagal di putaran pertama sih, tapi Ei-chan mulai menikmati bermain tenis. Dengan bantuan note-nya, sedikit demi sedikit, keinginannya menjadi pro semakin kuat, meski harus mengorbankan nilai akademis dan ranking di sekolah (konflik yang bikin penulis galau T_T).
***

Udah. Segitu aja.
Lho, nggak ada konten spoiler?
Keinginan Ei-chan untuk jadi profesional aja udah termasuk spoiler kok.
Bercanda. Tapi bener. Hehe.
Karena sejak awal semua pasti tahu, dilihat dari kacamata awam pun cerita anime ini ujung-ujungnya akan menjurus ke arah sana. Lain soal kalau saya tulis semua hasil pertandingan para tokohnya sampai akhir. Then, that will be not interesting, won't it?

Saya suka dengan pembawaan ceritanya. Sangat.
Saya tidak tahu-menahu soal tenis, pun tidak tertarik dengan olahraga itu. Akan tetapi, sama sekali tidak mengurangi kenikmatan saya menonton anime ini dari awal sampai habis, bahkan sampai membuat saya menunggu season 2-nya.

OH, dan saya juga suka romance yang berkembang antara Ei-chan dan Nat-chan. It’s so sweet yet not shown too much. Bahkan aspek sampingan ini pun kesan realistisnya ngena banget. I’m supporting you, Ei-chan!


So far,
Kelihatan sepele, konflik juga nggak begitu rumit, bukan?
Tapi nggak selamanya yang sederhana itu membosankan. Di situlah letak keseriusan tokoh, bukan cuma tokoh utama, melainkan semua lawan dan kawan yang juga bermain tenis, diperlihatkan. Cara tokohnya menjadi kuat, lebih hebat, dan terus berkembang sangat masuk di akal. Yaitu? Tentu saja latihan. Usaha. Nggak ada yang lain. Memang sih, sedikit mengandalkan note (yang sekarang isinya tenis melulu) dan penglihatan tokoh utamanya yang tajam. Tapi tetap saja, sebagian besar bergantung pada usaha. He tried, and tried.

Mulai dari penggambaran tokoh sampai isi cerita, pesannya dapet banget; seorang awam pun bisa jadi ahli jika ada kemauan dan kerja keras. Bukan cuma dalam tenis, tapi juga dalam segala hal. Tak apa tak punya bakat. Tak salah terlahir bukan sebagai jenius. Tak perlu takut tak bisa apa-apa. Karena toh kita bisa belajar. Karena pada akhirnya usaha tak akan pernah mengkhianati.

He is not a prodigy.
He is not very smart.
He is just a hard worker.
No matter how many times he lost his matches, he still want to win at all cost. Effort and determination are all he has to make his dream comes true.
His character reminds us at how important our effort is.

Anime ini mengingatkan kita kembali akan pentingnya usaha dan kerja keras. Tidak ada kata malas jika ingin melewati batas. Mimpi itu dekat kok, asalkan kita mau mempersiapkan diri untuk mendekat padanya.

Ada sebuah quote yang saya suka yang sebenernya beda topik, tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, mirip sama anime ini.

“Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya.”

Novel Tokyo – Sefryana Khairil

Jadi, lagi-lagi, saya mengaitkannya dengan kesempatan dan pilihan. Salah jika ada yang bilang hidup ini melulu berisi rutinitas yang terasa monoton. Satu langkah saja, maka jutaan kemungkinan itu ada.

Seperti kata Kierkegaard, sang eksistensialis,

“To dare is to lose one’s footing momentarily. Not to dare is to lose oneself.”

Mungkin awalnya hanya berupa ‘ketidaksengajaan’ ketika si tokoh protagonis ini mencoba mencari hal baru di luar kegiatan belajar dan organisasinya. Mungkin tidak pernah terbersit bahwa olahraga akan menjadi sebuah passion baginya. Mungkin bahkan sejak pertama kali mencoba, ia langsung ingin berhenti.

Tapi ia memilih. Ia berani mengambil satu langkah, kecil tapi berarti begitu besar dalam hidupnya. Seorang yang tidak pernah antusias dalam satu hal, mulai merasakan keinginan kuat untuk melakukan sesuatu. Yang kemudian ia jadikan mimpi. Yang pada akhirnya ingin ia wujudkan dalam bentuk masa depan.

Hanya dari satu langkah, terbuka lebar jembatan menuju masa depan. Dari sekedar keluhan ‘lack of excercise’ menjadi sebuah cita-cita ‘going to be pro’. It’s kind of amazing, isn’t it?

Maka yang perlu kita lakukan hanyalah take the chance,take the risk, and take responsibility. Ketika membuat pilihan, ingatlah bahwa pengorbanan akan selalu ada. Bahkan dalam ekonomi pun, hukum ini juga berlaku. Melakukan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil maksimal. Tinggal bagaimana kita mempertanggungjawabkan pilihan kita itu. Berusaha, atau menyerah.

Jalan itu pasti panjang. Penuh hambatan dan terkadang menyadarkan kita bahwa banyak batasan dalam diri yang membuat mimpi itu terasa semakin jauh. Sejujurnya, saat itulah momen di mana kita berubah menjadi lebih kuat. Physically, and mentally. Jadi percayalah, ketika kesadaran itu tiba, just overcome it. Berlatihlah, dan berusaha. Setelah melewati batas diri, sesungguhnya kita sedang meruntuhkan tembok yang dibaliknya merupakan tempat mimpi kita itu berada.


As for me...
Anime ini membuat saya berkaca, sudah sejauh mana usaha yang saya lakukan selama ini? Berapa banyak waktu yang saya sisihkan bahkan untuk sekedar memikirkan masa depan? Atau jangan-jangan, saya bahkan belum membuat ‘pilihan’? Menentukan target, menyusun potongan mimpi.

Saya jadi takut, apakah tidak ada yang benar-benar bisa saya lakukan? Kemampuan, sesuatu di mana saya ahli dalam bidang itu. Pasti ada yang namanya ‘something’. Sesuatu yang barangkali belum saya temukan, atau barangkali sebaliknya, hanya saja saya belum menyadarinya. Belum memanfaatkannya. Belum berusaha penuh memaksimalkannya. Belum menggenapkan usaha, katanya.

Tapi saya yakin, di setiap orang, pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan. Sesuatu yang menyelinap diam-diam dalam hati, meringkuk dalam dasar kesadaran, menunggu pikiran membuka rantai yang memenjarakannya. Sesuatu yang mereka bisa menjadi bukan sekedar ahli, tetapi juga menikmatinya. Sebuah mimpi, katanya.

何か私たちにはできることが絶対にある。私にも、あなたにも。

*Now, it’s sound a little philosophical. That’s not what I’m intended in the first place, though.

Last words from me, “Please just take a try, and see how you will enjoy this anime.”
So, happy watching! :)

Friday, April 17, 2015

Aqua Terrarium - Yanagi Nagi (1st Ending Song Nagi no Asukara)

Sumber: japanesemusicid


Lyrics by Yanagi Nagi
Composed by Ishikawa Chiaki
Arranged by MATERIAL WORLD
Programming and Arrangement by Nishida Masala
Performed by Yanagi Nagi

Original / Romaji Lyrics
Atatakai mizu ni oyogu DETORITASU
Nagai jikan wo kakete ito wo tsumugi nagara mayu ni naru

Ittai dore kurai mabuta wo tojiteitandarou
Matte mo matte mo bokura zutto futarikiri
Koko wa yuugen no suisou de  namae wo yobeba awa ni naru

Atatakai mizu ni oyogu DETORITASU
Nagai jikan wo kakete ito wo tsumugi nagara
Odayaka ni nemuru kimi no sotogawa de
Subete no kanjou kara mamoru mayu ni naru

Shizuka sugita kono rakuen de tadayoi nagara
Nani hitotsu kawaranaindatte kizuite mo
Kimi no sugata wo miru dake de  boku no shikai wa sukitooru

Yuragu mukougawa  todokanai mama ni
Chikakute tooi suna no hashi wa aoku toketa
Odayaka ni nemuru kimi ni yorisotte
Namiutsu tsuki no katachi  sotto miageteru

Itsuka hitori de mezameta kimi no
Hajimete hitomi ni utsusu keshiki ga
Utsukushii mono dake de mitasareru you ni  sasagu komoriuta
Atatakai mizu ni oyogu DETORITASU
Nagai jikan wo kakete ito wo tsumugi nagara
Odayaka ni nemuru kimi no sotogawa de
Subete no kanjou kara mamoru mayu ni naru



Kanji Version

温かい水に泳ぐデトリタス
長い時間をかけて糸を紡ぎながら繭になる

一体どれくらい目蓋を閉じていたんだろう
待っても待っても僕らずっとふたりきり
ここは有限の水槽 で 名前を呼べば泡になる

温かい水に泳ぐデトリタス
長い時間をかけて糸を紡ぎながら
穏やかに眠る君の外側で
全ての感情から守る繭になる

静かすぎたこの楽園で漂いながら
何一つ変わらないんだって気づいても
君の姿を見るだけで 僕の視界は透き通る

揺らぐ向こう側 届かないままに
近くて遠い砂の橋は碧く溶けた
穏やかに眠る君に寄り添って
波打つ月のかたち そっと見上げてる

いつかひとりで目覚めた君の
はじめて瞳に映す景色が
美しいものだけで満たされる様に 捧ぐ子守唄

温かい水に泳ぐデトリタス
長い時間をかけて糸を紡ぎながら
やかに外側
ての感情からにな

Source: Animelyrics
***

Jujur, setelah lewat seminggu nonton animenya pun, lagu ini masih tetep jadi langganan daftar putar di handphone. Nomor satu playlist yang diulang-ulang tanpa bosen. Favorit deh.

Lagu ini rasa laut; pelan, merdu, dengan instrumen sederhana, seperti judul animenya, nagi () yang berarti ketenangan. Pas banget sama selera saya, nggak ‘berisik’. Suaranya unik, khas Jepang, dan kedengaran seperti pake suara 2 yang ngambang gimanaaa gitu. Intronya memang agak lama sih, sekitar setengah menit (beda sama animenya yang dipotong, langsung dicepetin ke bagian verse), dan karena suaranya pelan, saya sempet mikir kok lagunya nggak mulai-mulai?? Dan, oh, ternyata cuma nggak kedengeran.

Dinamika nadanya tidak terlalu jauh, cenderung netral malah. Meski sedikit tinggi di bagian bridge, tapi jadinya samar karena suaranya haluuus banget. Cocok buat menenangkan hati, didengerin pas mau tidur, atau sekedar mau denger sesuatu yang ‘nyaman’. Recommended buat yang lagu favoritnya setipe sama saya; mellow, slow, and no blow.

Soal penyanyinya, karena saya nggak kenal, jadi nggak bisa berkomentar banyak. Cuma yang bikin lucu adalah namanya. Kaya nama orang Sunda diulang gitu. Sama kaya judul animenya pula. Keren!


Sedikit curhat tambahan nih, berhubung udah semester 4 belajar bahasa Jepang, pengen rasanya sesekali terjemahin sesuatu. Dari yang gampang aja, lirik lagu misalnya. Berhubung di animelyrics.com belum ada terjemahan bahasa Inggris-nya, saya mau jadiin lirik ini proyek pertama saya. Jadi yang kepingin tahu artinya, sekalian bisa lihat dalam bahasa Indonesia deh. Mungkin nanti proyek ini bakal langgeng, punya nama dan hashtag sendiri, dan bisa di-update teratur. Aamiin. *mulai aja belom* *mimpi dulu boleh lah ya*

Yaps, itung-itung mengasah kemampuan bahasa Jepang dan wawasan kosakata bahasa Indonesia, kayaknya patut dicoba.  Tunggu tanggal mainnya ya! *semoga kejadian*

Review: Nagi no Asukara



Sumber: Wikipedia

Akhirnya, empat hari maraton anime ini (diselingi kuliah, tidur, dan nonton anime lain) selesai juga. Otsukare sama. Yoku mite dekita.

Meski agak telat nge-post, tapi tetep aja semangat ngomonginnya. Anime ini bagus banget. Setelah setahun ragu mau nonton dan cuma tersimpan di harddisk, nggak nyesel pilih anime ini untuk dihabisin pasca UTS. Karena di balik design character-nya yang sangat tidak mengundang saya orang untuk nonton, nyatanya it’s made well. Beyond expectation. Really.

Jadi, ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa seluruh umat manusia awalnya tingal di laut. Namun, perlahan-lahan manusia meninggalkan laut dan mulai hidup di daratan. Nah, cerita ini berlatar di mana manusia terbagi dua, yaitu manusia laut, nama desa lautnya Shioshishio, dan manusia darat, nama desanya Oshiooshi. Manusia laut ini bisa ke darat tapi tidak sebaliknya. Kenapa mereka bisa tinggal di laut? Karena mereka punya ena, semacam membran tipis yang menyelubungi manusia layaknya air ketuban yang melindungi janin, sedangkan manusia darat tidak.

Fokus cerita ada pada manusia laut (tapi seringnya berlatar di darat), sekelompok anak-anak SMP yang terdiri dari 4 orang, dua cewek dua cowok, bernama Manaka(ce), Hikari(co), Chisaki(ce), dan Kaname(co). Sebenernya pas banget buat jadi dua pasangan, tapi ternyata ceritanya nggak sesimpel itu. Tepat di episode pertama, bahkan sebelum opening song dimulai, Manaka tertangkap seorang nelayan yang seumuran dan satu sekolah dan seorang cowok yang bernama Tsumugu, di tengah perjalanan menuju daratan untuk sekolah di darat karena sekolah laut ditutup.

Pertemuan Manaka dengan Tsumugu ini jadi awal cerita yang sangaaaaat panjang, penuh intrik, masalah, tragedi, dan pastinya, cinta. Or I'd rather say, it's full of drama. Pertemuan yang ditakdirkan, katanya. Dan itu yang terlintas di benak Hikari ketika melihat Manaka dan Tsumugu bertemu untuk pertama kalinya. It really hit my heart, ketika Hikari menyangka bahwa pasti akan ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, dan pikiran itu nempel banget sepanjang nonton anime ini sampai sesaat sebelum episode terakhir (talk about plot twist!). Well, well down, director. *Standing applause*

Dari sepotong dua potong monolog satu orang tokoh sampe bikin penonton mikir hal yang sama dengan tokoh itu rasanya.. sesuatu. Yakin deh, saya hampir semua yang nonton pasti sempet mikir, ‘paling ceritanya cuma muter2 soal Manaka jadian sama Tsumugu’. But, it’s more than that. Seriously, what a great impact.

Ok, let’s stop praising. Jump to the story.

Manusia laut dan manusia darat sebenarnya tidak akur, bahkan bisa dibilang saling bermusuhan. Berangkat dari konflik dasar itu, masalah pertama yang diangkat adalah tentang bagaimana manusia darat dan manusia laut tidak bisa bersatu. Karena jika mereka memutuskan untuk menikah, maka manusia laut tidak akan pernah bisa pulang kembali ke laut. Istilahnya, manusia laut ‘dibuang’ oleh laut karena mereka ‘membuang’ laut. Kenapa? Karena pernikahan antara manusia laut dan manusia darat akan melahirkan anak yang tidak memiliki ena, sehingga tidak menghasilkan keturunan untuk manusia laut.

Masih banyak yang harus dijelaskan mengenai latar cerita dan remeh-temeh dari anime ini, tapi karena bakal panjang banget, skip saja lah.

Manaka, Hikari, Chisaki, dan Kaname, sekelas bersama Tsumugu. Perlahan-lahan, mereka menghadapi sulitnya berinteraksi dengan manusia darat karena seperti ada jurang pemisah di antara mereka. Mindset keliru yang tertanam dalam pikiran mereka sering menimbulkan kesalahpahaman. Beberapa kali teman-teman sekelas mendiskriminasi mereka berempat.

Suatu hari, Festival Ofunehiki, yaitu festival yang diadakan setiap tahun oleh manusia darat dengan memberi persembahan berupa patung gadis kepada Dewa Laut menurut tradisi, dibatalkan, atau tepatnya sejak awal manusia darat tidak bermaksud melanjutkan festival tersebut tahun ini. Namun seorang guru di kelas Hikari dkk meminta volunteer untuk membuat Ofunehiki kecil-kecilan sebagai penggantinya. Terpilih lah Manaka, Hikari(karena Manaka ikut), Tsumugu (yang memang tertarik dengan laut), Chisaki, dan Kaname. Karena suatu insiden, teman mereka yang manusia daratan, bernama Egawa dan Sayama, serta beberapa lainnya menyadari kebaikan Hikari dan ikut membantu mereka mempersiapkan patung yang akan dijadikan “sesajen”. Setelah melihat hasil kerja keras mereka, akhirnya Hikari memutuskan untuk melakukan Festival Ofunehiki yang sebenarnya.

Persiapan mereka tentunya tidak berjalan mulus, penuh kerikil, tanjakan, dan tikungan(oke, sedikit lebay). Di tengah masalah yang muncul satu per satu, hubungan mereka berempat semakin dekat dengan Tsumugu. Selama itu pula, muncul dua tokoh penduduk Oshiooshi, anak SD yang berusia 5 tahun di bawah mereka, bernama Sayu dan Miuna. Ibu Miuna(lupa namanya siapa) berasal dari laut dan meninggal beberapa tahun lalu. Ayah Miuna adalah Itaru. Itaru adalah pacar Akari. Akari adalah kakak Hikaru.

Hubungan kompleks ini penjelasan singkatnya begini; Miuna menolak Akari menjadi pacar ayahnya—dengan kata lain calon ibu barunya—karena perasaan takut ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi, seperti ibu kandungnya yang pergi meninggalkannya. Oleh karena itu, ia dan Sayu, temannya, mengganggu Hikari dkk untuk membuat Akari dan ayahnya putus. Padahal di lain pihak, keluarga Akari yang ayahnya adalah seorang kepala pendeta, pun tidak merestui hubungan Akari dan Itaru. Jadi intinya, Hikari, Manaka, Chisaki, Kaname, Tsumugu, Miuna, Sayu, Akari, dan Itaru, terlibat konflik cinta sekaligus keluarga. Di mana pilihan menjadi sulit ketika kita harus melepas sesuatu demi meraih kebahagiaan yang kita inginkan. Tetap menjadi manusia laut dengan melepas cinta, atau melepas laut demi cinta.

Cinta di sini dikemas dengan sangat apik dalam bentuk hubungan bukan hanya antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga orang tua dan anak. It really is touching and heartwarming.

Di balik rumitnya permasalahan hubungan manusia laut dengan manusia darat, masing-masing tokoh juga membawa konflik pribadi yang menambah benang kusut hubungan mereka. Di awal masa remaja, wajar jika muncul perasaan suka di hati mereka. Namun semua menjadi rumit, sulit, dan susah, ketika perasaan itu justru tumpang tindih, tanpa ada ujungnya.

Lihat saja kompleksitas alur perasaan ini:
Manaka yang terlihat menyukai Tsumugu sejak pertama kali bertemu. Hikari yang jelas-jelas menyukai Manaka dan selalu ingin melindunginya. Chisaki yang menyukai Hikari dari jauh, tanpa ingin perasaannya terungkap. Kaname yang sejak lama diam-diam memendam rasa untuk Chisaki. Sayu yang terkesan dengan kebaikan Kaname. Miuna yang mulai suka pada Hikari setelah ia membantunya berbaikan dengan Akari. Dan Tsumugi yang tidak terbaca pikirannya...
Well, isn’t it?

Nonton anime ini kadang bikin geregetan sama sutradaranya. Jika suatu saat nanti kalian juga berpikir, “kenapa harus serumit ini???”, ketika itu lah saya akan bilang, “I’ve told you.”

Karena anime ini terdiri dari 26 episode, jadi konflik yang ada cukup banyak, silih berganti, side story di mana-mana, tetapi tanpa kehilangan fokus pada tokoh utamanya, Hikari. Beberapa kali bagaimana ‘berubah’ dan ‘tidak berubah’ menjadi topik yang diangkat dalam anime ini (namanya juga kisah ABG—anak baru gede). Terkadang mereka menghadapi hal-hal yang berubah dan hal-hal yang tidak berubah, serta bagaimana perubahan itu menjadi penting atau tidak. Karena mereka tidak selamanya berempat, karena perasaan tak bisa disangkal, karena kenyataan memaksa mereka untuk memilih.

Di bawah ini adalah hubungan para tokoh Nagi no Asukara yang coba digambar seadanya. Semoga bisa sedikit menggambarkan bagaimana rumitnya hubungan mereka :(
Warning: Spoiler alert! *Maaf kalau nggak kelihatan*
 
Foto: Isitmewa


Bahkan sampe dibikin versi lucu-lucuannya.(lol)
Sumber: http://www.reddit.com/r/anime/comments/1t983n/spoilers_nagi_no_asukara_episode_12_discussion/

Ngomongin soal tokoh, yang paling adorable menurut saya adalah Kaname (heart’s sound: kyaa kyaaa). Dia ini tokoh yang paling, paling saya sukai. Di balik kesan dewasanya yang tidak sok dewasa seperti Tsumugu, tokoh Kaname ini punya sisi manis yang nggak berlebih kaya Hikari atau justru berkekurangan kaya Tsumugu. 
Sumber: imgarcade

Tapi parahnya, dari awal sampe akhir, keluarga Kaname seperti ayah atau ibu nggak dimunculkan sama sekali. Padahal ia pernah cerita kalau ia sempat bertengkar dengan mereka. Bahkan di episode terakhir pun, ia tetap sendiri ketika yang lain bersuka cita dengan keluarga masing-masing (hiks...). Beberapa kali air mata ini menetes ketika konflik yang dialami Kaname diangkat, terutama curhatannya yang akhirnya keluar di episode 24. You’re not alone, Kaname!(cried out loud)
 
Tapi entah kenapa, saya justru paling tidak suka dengan Tsumugu (sorry, no offense). Rasanya tokoh Tsumugu itu serba nanggung. Dibilang pendiam, tapi agresif. Dibilang tokoh utama, tapi kadang jarang muncul. Terus saya kurang suka sama perkembangan penokohannya. Kok jadi gini? Kok sama si itu? That thoughts kept running on my head.

Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, plot twist, plot twist, dan plot twist! Wah. Pokoknya wah. Mau jadinya nyebelin atau sebaliknya, plot twist tersebar di penjuru cerita. Selain itu, yang saya suka dari NagiAsu ini adalah.... Ending Theme-nya! Berjudul Aqua Terrarium dan dibawakan oleh Yanagi Nagi, pas banget sama anime ini baik dilihat dari Judul maupun nama penyanyinya. (Just my opinion, penyanyinya pasti sengaja dipilih karena namanya sama!)
Untuk ulasannya, bisa dilihat di sini.

Kalo soal design graphic, tidak perlu diragukan lagi hasil kreasi dari tangan dewa para staff P.A Works. Satu kata; menakjubkan. I mean it. Sejauh ini yang pernah saya tonton, anime yang latarnya paling detail adalah produksi P.A Works, dan menjadi salah satu alasan kenapa saya selalu mengikuti anime-anime keluaran studio ini. Pokoknya, sangat memanjakan mata bahkan meskipun ditonton dalam format LQ. Langitnya indah. Apa lagi lautnya. Semua-muanya lah.


Trivia:
Dewa, yang memang menjadi kepercayaan orang Jepang, menjadi pusat dari segala konflik yang ada dalam cerita. Orang Jepang percaya—sampai sekarang—bahwa “di mana-mana ada dewa”. Di gunung, pohon, dan tentu saja, laut! Maka jangan heran kalau dalam anime ini para tokohnya percaya sekali pada dewa, bahkan cenderung menggantungkan hidupnya pada keputusan dewa. Kalau kata dosen saya, mereka itu religius (rasional) sekaligus magis (irasional). That’s so Japan.

***

Akhir kata, saya suka dengan konflik percintaannya. Saya suka dengan indahnya mencintai dan dicintai yang berusaha disampaikan oleh anime ini. Saya suka bagaimana hati para tokohnya bisa berubah sekaligus tidak berubah. Saya suka pesan ceritanya yang dalam!

Sekali lagi, terakhir, berkat anime ini saya semakin nge-fans dengan P.A Works! Thanks for the great story. :)