Tuesday, May 7, 2013

Review: Mockingjay, Akhir Pemberontakan


  • Ukuran : 13.5 x 20 cm
  • Tebal : 432 halaman
  • Terbit : Januari 2012
  • Cover : Softcover
  • ISBN : 978-979-22-7843-9
  • No Produk : 32201120001

http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/85405/Mockingjay

Mockingjay, sebuah novel bertemakan pemberontakan. Berlatar peperangan. Bertaburan konflik dan intrik.


Banyak hal yang bisa disukai pembaca dalam novel ini. Ketegangan yang ditampilkan seakan tanpa henti sejak buku pertama (ya, itu fakta! Dan saya sangat menyukainya). Cerita yang dipaparkan secara runut, dimulai dari Katniss Everdeen di usianya yang menginjak 16 tahun ikut serta menggantikan adiknya dalam Hunger Games, sebuah permainan yang menampilkan 24 peserta dari 12 distrik dan memaksa para pesertanya berada dalam suatu arena untuk membunuh satu sama lain.


Awal cerita buku ini sekitar satu bulan sejak Katniss memenangkan Hunger Games ke-75, atau Quarter Quell—Hunger Games yang diadakan 25 tahun sekali dengan penambahan peraturan khusus—untuk memperingati Masa Kegelapan. Setelah menghancurkan arena dan diselamatkan oleh Para Pemberontak, Katniss berada dalam lindungan Distrik 13 yang selama ini dianggap hancur namun ternyata membangun kehidupan yang sangat disiplin di bawah tanah.


Cerita bergerak ke rencana-rencana pemberontakan dengan menampilkan seorang tokoh Pemberontak yang menjadi lambang revolusi, disebut Mockingjay, dan tak lain adalah Katniss sendiri. Ia menyetujui menjadi Mockingjay lebih untuk membalaskan dendamnya kepada Presiden Snow, dan melindungi Peeta dari kekejaman Capitol.


Latihan dijalani, siaran anti-Capitol ditayangkan, serangan dilakukan, dan strategi dikumpulkan. Tak ada yang berjalan lancar dalam setiap peristiwa yang dialami Katniss, yang membuat saya merasakan adrenalinnya dalam menghadapi Para Pemberontak dan Penjaga Perdamaian. Sosok Katniss begitu menarik simpati, membuat pembaca ikut merasakan ketakutannya kehilangan orang-orang yang disayangi, kecemasannya akan kondisi Peeta, dan keputusasaannya mendapati begitu banyak orang yang mati dari berbagai Distrik karena pemberontakan yang dipicunya.


Katniss sudah pasrah terhadap keselamatan Peeta. Hingga suatu hari Peeta berhasil dibebaskan Pemberontak dari genggaman Capitol dan sampai di Distrik 13 dengan selamat. Namun tak disangka, Katniss yang gembira bukan main melihat kekasih kameranya(Katniss dan Peeta berakting sebagai sepasang kekasih di hadapan kamera dan dikeahui seantero Panem) selamat, langsung merentangkan kedua tangannya, yang disambut serangan cekikan tangan Peeta untuk membunuhnya.

Yah, begitulah. Alur sulit ditebak, dan berbagai peristiwa yang mengena menjadi nilai plus plus untuk buku ini. Kisah asmara antara Katniss, Gale, dan Peeta, menjadi adegan yang paling saya nantikan sepanjang serinya. Penokohan yang baik membuat saya pun sulit menebak siapa pasangan yang tepat untuk Katniss. Bahkan, ada adegan yang membuat saya menangis saat ketakutan Katniss memuncak memikirkan kemungkinan kematian Peeta.


Namun, entah bagaimana Collins sanggup memasukkan ironi dan menyelipkan humor dalam dialog maupun pikiran tokohnya. Yang secara kesuluruhan cukup mengimbangi paduan ketegangan dan hiburan dalam buku ini. Sukses besar rasanya tidak berlebihan untuk memberi label buku terakhir seri Hunger Games ini. Cool fantasy!

Lihat saja berbagai penghargaan yang sudah berhasil diraihnya:
#1 New York Times Bestseller
#1 Publishers Weekly Bestseller
A 2010 Booklist Editors' Choice
A 2010 Kirkus Best Book of the Year
A Publishers Weekly Best Book of 2010
#1 USA Today Bestseller

No comments:

Post a Comment